Widget HTML Atas

KABAR DUKA !! Rekaman Konspirasi Penggulingan Raja Arab Saudi Beredar


Sebuah rekaman percakapan yang diduga dilakukan dua mantan anggota parlemen Kuwait dengan mantan pemimpin Libya, Moammar Gaddafi, membuat geger. Sebab, percakapan itu berisi konspirasi penggulingan raja Arab Saudi.

Laman Al Arabiya melaporkan bahwa dua mantan politisi Kuwait yang menjadi lawan bicara Moammar Gaddafi adalah Mubarak al-Duwailah dan Fayez Hamed al-Baghili al-Rashidi. Al-Duwailah merupakan tokoh politik Kuwait yang dikaitkan dengan kelompok Ikhwanul Muslimin.

Rekaman itu dibocorkan oleh aktivis oposisi Qatar, Khalid al-Hail. Dalam percakapan itu Moammar Gaddafi dan dua politikus Kuwait tersebut membahas penjatuhan rezim kerajaan Saudi. Mereka juga memudi tokoh oposan Arab Saudi, Sa'ad al-Faqih.

" Gerakan reformasi yang dipimpin Sa'ad al-Faqih telah menyebabkan guncangan hebat di Saudi," demikian bunyi suara yang diyakini sebagai Moammar Gaddafi.

Al-Faqih merupakan pembangkang Arab Saudi yang tinggal di London, Inggris. Dia dituduh terkait dengan jaringan Alqaeda oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat. Al-Faqih berulang kali mengkritik Saudi dan menyerukan peggulingan keluarga Al Saud dari tahta kerajaan.

" Dia mulai banyak saluran visual untuk mengutuk Al Saud dan rezim mereka dan menghasut orang untuk memberontak dan tidak taat," lanjut suara yang diyakini sebagai Moammar Gaddafi.

" Saya telah bertemu orang-orang dari Riyadh, dan kita tidak bermimpi bahwa suatu hari kita akan menggelar protes di Riyadh. Itu tidak mungkin, kata mereka. Tidak, mudah bagi kami untuk protes dan mereka tidak bisa memadamkan kami. Sekarang dunia terbuka dan semuanya ada di bawah mikroskop, mereka menangkap satu dan neraka akan terlepas, organisasi hak asasi manusia dan lainnya. Keluarga Al Saud telah menyerah pada segalanya, hanya ingin tetap berkuasa selama mungkin."

Al-Duwailah, pemimpin Ikhwanul Muslimin Kuwait yang berafiliasi dengan Islamic Constitutional Movement, terdengar setuju dengan pernyatan Moammar Gaddafi. " Kami mendengar dari orang-orang di sana bahwa situasi mereka tidak baik, bahkan di antara mereka sendiri mereka memiliki banyak masalah," kata al-Duwailah.

Melalui Twitter, Al-Duwailah mengakui rekaman yang bocor itu. Dia mengaku telah memberi tahu pemerintahnya perihal pembicaraan dengan pemimpin negara lain.

Menurut al-Duwailah, dia dan al-Baghili berada di Libya untuk menegosiasikan kesepakatan damai antara pemerintah Sudan dan Rashaida Free Lions, sebuah kelompok bersenjata yang bermarkas di Sudan timur.

Dalam rekaman itu, al-Baghili merujuk pada orang-orang Rashaida dan memuji Gaddafi, menggambarkannya sebagai " saudara pemimpin" dan memuji upaya penjagaan perdamaiannya di Sudan. Rekaman ini dibuat setelah 2006, ketika Free Lions menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Khartoum.

Namun, pemerintah Kuwait menolak klaim al-Duwailah. Pemerintah Kuwait mengklaim al-Duwailah tidak pernah memberitahukan percakapan dengan Gaddafi tersebut.

" Amiri Diwan Sunday Kuwait menganggap sebagai 'sama sekali tidak benar dan palsu' kata-kata yang dibuat Mubarak Al-Duwailah bahwa ia memberi tahu Yang Mulia Amir tentang perincian pertemuannya dengan mantan presiden Moammar Gaddafi," demikian pernyataan pemerintah Kuwait dikutip Kantor Berita Kuwait (KUNA) pada Senin lalu.