KOMENTAR DI BAGIAN BAWAH SEKALI

Mental Bekas Jajahan di Balik Hobi Minta Foto Bareng Bule



Nia Aprilianingsih yang dulu bukanlah yang sekarang. Perempuan asal Yogyakarta yang berprofesi sebagai pendamping di Dinas Sosial itu kini lebih kalem. Dulu ia sempat mengalami fase “labil”. Salah satunya dengan menjajaki kelakuan khas remaja di lokasi wisata: foto bareng bule asing alias yang tak ia kenal sama sekali.

“Di area candi kalo nggak di keraton, udah lama banget. Pas itu sih alasannya karena pengen foto sama bule ganteng. Hahaha... Awalnya mereka kaget, 'kan bukan artis atau apapun. Tapi sih akhirnya mau,” ungkapnya, Selasa.

Kelakuan remaja yang didasarkan pada kekagumannya atas dasar penampilan luar itu bisa dimaklumi. Baru pada usia dewasa Nia menyadari bahwa dulu ia didorong oleh perasaan inferior, yang mengendap di bawah alam sadarnya, tentang betapa kerennya sang bule yang mau berwisata sampai ke Yogyakarta.

“Awalnya si bule kaget dan bertanya-tanya, kenapa kok tiba-tiba diajak foto, padahal bukan artis. Tapi yah akhirnya mereka mau juga sih. ” ujar Nia.

Kebiasaan mengajak foto bersama wisatawan kulit putih, terutama di objek-objek wisata, adalah pemandangan yang lumrah di Indonesia. Nia tidak sendirian. Dalam penelusuran Tirto, perilaku ini dilakukan terutama oleh para remaja yang sedang melakoni “study tour” atau melancong bersama kawan-kawan satu geng.

Bramm Hubbell adalah pengajar sejarah di sekolah swasta Friends Seminary di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Dalam dua dekade terakhir ia sering berpergian keliling dunia. Totalnya ada 60-an negara. Ia mengunjungi tempat-tempat yang sejarah lokalnya ia tuturkan kepada murid-murid di kelas.


Pada 2011 ia melancong ke Bali dan Pulau Jawa. Melalui wawancara via Facebook Messenger pada Selasa (14/8/2018), ia bercerita perihal keganjilan sikap orang-orang lokal yang sesekali meminta untuk berfoto dengannya. Ada yang suka tipe foto keluarga, ada pula yang mengambil selfie.

Permintaan foto Hubbel jumpai tidak hanya saat ia berada di Indonesia, tapi juga negara-negara Asia lain seperti Cina dan India. Pada musim semi dua tahun lalu ia menyusur ke bagian barat China, terutama Xinjiang. Sejumlah warga lokal, yang tentu saja tak ia kenal, memfoto dirinya atau meminta foto bersama.

Pengalaman di Xinjiang belum ada apa-apanya dengan yang ia alami di India—negara dengan penduduk paling aktif meminta foto bersama Hubbel.

“Tindakan itu cukup lumrah di India. Aku mengunjungi India bagian timur, di tempat yang sepi turis seperti Assam atau Sikkim. Jadi aku tidak bisa berjalan lebih dari 10 menit tanpa dihentikan untuk foto bareng,” tuturnya.

Orang-orang yang mengajak foto terlihat gembira, bangga, lalu menyebarkan hasilnya ke teman melalui aplikasi WhatsApp atau mengunggahnya di Instagram atau Facebook. “Kadang bukan cuma foto, tapi juga obrolan yang lumayan panjang,” imbuhnya.

BAGIKAN SEGERA WhatsApp

Posting Komentar